Sekilas pengantar. aku buat cerita ini demi memenuhi tantangan dari seseorang nun jauh disana. Juan Aditya Permana. my only love :* jangan ketawa ya sayang.... bunda masih amatiiran xD cerita sayng bunda tunggu xD
**********************************************************************
Namaku Ika Yunita Dini, panggil saja Ika. Aku hanyalah gadis
biasa dari keluarga yang biasa dan dengan kisah yang biasa-biasa saja. Setiap
hari rutinitasku tak jauh berbeda. Berangkat sekolah, pulang, makan, tidur
siang, nonton tv, makan, dan tidur lagi. Tidak ada yang menarik dari hidupku
ini—begitulah yang kupikirkan—. Namun ada satu hal yang aku suka dari
rutinitasku, yaitu nonton. Kenapa? Karena aku senang melihat bagaimana setiap
film menunjukkanku kisah yang berbeda-beda, bagaimana sebuah film mengangkat
cerita yang berwarna. Meski sering pula aku hanya ribut berkomentar mengenai
film yang kadang tidak masuk akal, namun bagiku melihat sebuah kisah baru
adalah menyenangkan, hm pelarian dari kisah hidupku yang datar- datar saja
mungkin. Aku senang dengan semua jenis film, namun yang paling aku senangi
adalah genre romantic, aahh membayangkan hati berbunga-berbunga setelah
menyaksikan kisah cinta romansa di film dan drama, membuatku seringkali
bermimpi indah.
“haah,, kapan aku punya kisah cintaku sendiri?” gumamku
sembari meletakkan mug teh hangat disamping laptop. Sudah 2 hari ini aku
“menggarap” drama Jepang ini. Dan akhirnya aku sampai pada episode terakhir,
lega sekaligus tidak rela.
“IKAAAAAAA!!!! BERAPA LAMA LAGI KAMU MAU TIDUR? BANGUNNN!!”
“Oops! Ratu rimba” aku segera menutup laptop dan mengamankan
ditempat yang aman—dibawah bantal—sebelum pintu kamarku berhasil dibuka oleh
Ratu Rimb-ralat- Ibuku. Dengan tergupuh-gupuh aku segera masuk kedalam selimut.
Bersiap mengeluarkan acting terbaikku, yah aku baru bangun tidur.
BRAKKK!!
“uhmm... ibu... Ika masih gak enak badan” maafkan aku
berbohong Tuhan, sekali ini saja.
“ckckck,, masa iya belum sehat? Tapi tadi ibu liat kamu
kedapur bikin teh” sembari melipat tangan, ibuku menatapku penuh selidik.
“yaah,,, itu aja masih pusing” jangan kutuk anakmu ini Ibu.
“hhhh.... yasudah... nanti adek kamu ibu suruh bawa makan
siang kesini...” aaahh.... Ibuku tercinta,, terima kasihhh.. ibu memang yang
terbaik.Aku tersenyum simpul menanggapi perkataan ibu, aku orang
sakit kan? Hehe. Sesaat setelah ibu menutup pintu aku menghela napas lega.
“saatnya tiduuur~” kutarik selimutku menutupi seluruh bagian
tubuh dan wajahku. 2 hari tidak tidur memang memberi efek yang buruk. Namun
jangan salahkan aku, film itu terlalu unik sehingga aku tak sabar menyaksikan
ceritanya hingga akhir. Mau bagaimana lagi. Seharian pada hari itu aku berhibernasi, bangun hanya untuk
makan siang lalu tidur lagi, hingga keesokan paginya.
Tuntas sudah pembalasan
dendamku. Pagi ini aku bangun dengan tubuh yang segar bugar. Wajahku yang ceria
sudah kembali bersemayam.
“Selamat pagi semuanyaaa... ang..eumm,, enak...” segera
kulahap nasi goreng buatan ibuku. Mengisi tenaga dipagi hari, Karena seharian
ini aku akan banyak kegiatan disekolah. Maklum sudah duduk di semester akhir.
Yap aku adalah murid SMA kelas 3, detik-detik menjelang ujian akhir namun itu
tidak menghentikan hobi menontonku. Tidak ada apapun dan seorangpun yang bisa
menghentikanku.
“Ika berangkat dulu ya, bu, pak, dek.” Kukecup tangan kedua
orang tuaku, dan hanya menepuk kepala adikku. Dengan semangat kukayuh sepedahku
menuju ke sekolahku tercinta. Aku siap menjalani hari ini.
****************
“Kalian mainan apaan sih? Kok pada serius gini?”
“ohh ini ka,, namanya RP”
“RP? Rupiah?”
“isshh bukan, roleplay”
“apaan tuh?”
“hm... liat aja nih sendiri.. ini akun aku”
“Hong Yonggi, kamu jadi orang korea Ono?”
“yaps.. ini nih kayak kita jadi orang lain, dengan karakter
yang bukan diri kita sama sekali” kutatap Ono teman sekelasku penuh minat. Menjadi
orang lain? Artinya melihat dari sudut pandang mata lain. Artinya melepas
kehidupan yang dimiliki saat ini untuk menjalani hidup yang lain. Entah kenapa
dibayanganku, ini keren!
“bener tuh ka, aku juga main, seru banget.”
“Tika juga main? Tika jadi siapa?”
“Kalo aku jadi Lee Hyangsuk,
Ulzzang* Korea”
“wahh, sepertinya asik. Aku
pengen gabungan dong”
Yah dengan begitu aku resmi
bergabung dengan komunitas Roleplayers. Membagi waktuku, tidak hanya untuk
belajar dan nonton film, namun juga bertambah untuk menatap handphone, eksis
dalam dunia roleplay.
*Ulzzang : tokoh berwajah super cantik artis Internet.
****************
3 bulan sudah aku aktif bermain
di dunia maya, sungguh pengalaman yang luar biasa. Aku benar-benar menikmati
saat-saat aku menjadi orang lain. Aku seperti bermain dalam sebuah film dan aku
harus menguasai semua naskahnya. aku bisa merasakan bagaimana berpikir dengan
karakter sikap yang lain, intinya aku benar-benar menyukai ini. Semakin terbuai
dalam dunia maya aku semakin malas. Aku hampir tidak memikirkan masa depanku
sama sekali. Bahkan untuk ujian aku hanya membaca materi ujian sekali dua kali.
Teman-temanku sibuk berpencar mencari perguruan tinggi, namun aku masih asik
dengan poselku. Namun tak ayal terkadang aku bosan juga saat aku malas melakukan apapun di dunia palsu itu, Hingga pada suatu hari, aku berbincang dengan seseorang di RPW,
melalu Obrolan pribadi.
“Donglee Hae Part II, orang ini
menarik juga.” Beberapa lama mengobrol aku semakin penasaran dengan Username ini. Aku jadi ketagihan
berbicara dengannya. Setiap hari aku membuka ponsel aku berharap menemukan dia
di deretan Online. Roleplayer dari Lee Donghae Super Junior ini sedikit menyita perhatianku. Aku yang sebelumnya asing
dengan makhluk bernama pria, entah mengapa merasakan sesuatu pada orang ini.
Meski aku belum tahu pasti mengenai rasa apa itu.
Hari demi hari berlalu, aku dan
Donghae semakin dekat, kami bahkan memutuskan untuk memasang status hubungan di
dunia palsu itu. Aku suka perasaan-perasaan baru yang aku rasakan saat aku berbicara
dengannya. Begitu asing, namun menggairahkan. Semakin lama aku semakin
penasaran dengannya, namun yang membuatku kesal adalah kemisteriusannya. Dia
bahkan tidak ingin memberi tahuku nama aslinya. Padahal aku sudah sangat
terbuka padanya. Biodata pribadi bahkan foto asliku telah kuberikan padanya,
meskipun ia tidak meminta.
Hwang Nana : Nama oppa siapa sih?
Donglee Hae Part II: Secret :p
Hwang Nana: aah, oppa,, nana serius.. kan penasaran..
Donglee Hae Part II: nanti juga tau kok.. sabar ya..
“aahh,, nyebelin amat sih nih
orang,, apaan coba pake rahasia segala” Meski kesal, kami terus berbincang
hingga larut malam, sampai ia tak lagi membalas karena mungkin telah tertidur.
Hanya bertukar kata, membuatku semakin lama ingin tau lebih dalam mengenai dirinya. Kutepuk
pipiku, aku tidak boleh terlena. Aku harus lulus UN dengan nilai bagus terlebih dahulu.
“sekarang AYO BELAJAR~~~”
****************
“Ibu, capek...”
“Dikit lagi,, ini angkat mejanya
kedalam.”
“hahh,, siap bos”
Sudah hampir 3 jam kami melakukan
ini, memindahkan barang demi barang menyusunnya disini, dirumah baru kami.
Setelah lulus Ujian Nasional dengan nilai yang standar saja, dan diterima di
perguruan tinggi di Jakarta, yang aku yakin hanya kebetulan semata bisa lulus
disana. Tiba-tiba orang tuaku memutuskan untuk pindah rumah, alasannya? Karena
sejak dulu aku tidak diperkenankan untuk ikut campur masalah orang tua, jadi
aku sampai sekarang tidak tau alasan kepindahan kami ke Jakarta. Jakarta? Ya!
Jakarta. Kota metropolitan yang menjadi banyak setting film dan sinetron di tv.
Diam-diam aku tersenyum sambil
membayangkan akan menelusuri kota Jakarta untuk mengunjungi lokasi-lokasi yang
biasa dijadikan tempat syuting. Jadi turis lokal sepertinya asik juga. Ini
adalah kali pertama aku ke Jakarta. Dan rasanya WOW! Aku begitu bersemangat.
“ngapain senyum-senyum sambil
natap rak lemari? Gila ya?” Aku terkesiap mendengar suara.
“Ihhh bikin kaget aja kamu”
“Kakak sih, senyum-senyum gak
jelas gitu” Kiky berlalu sambil memeluk bantalan sofa. Kiky adikku, dia memang
selalu menjengkelkan, anak laki-laki berusia 12 tahun. Hm, meski begitu aku
sayang dia, kadang kalau sudah datang baiknya, dia selalu mau bila aku suruh ke
warung untuk membeli snack.
“haahh... sebaiknya aku cepat
kalau mau jalan-jalan”
****************
Ketika angin mulai menyejuk,
lazuardi masih ceria membiru. Meski ini sudah lewat jam 5 sore, namun langit
masih enggan berubah warna menjadi kemerahan. Membuatku semakin bersemangat
mengayuh sepeda gayungku menyusuri kompleks perumahan di sekitar rumah baru ku.
Aku orang yang mudah penasaran, sehingga bukan Ika namanya yang berkesempatan
berkililing namun tak menggunakannya dengan baik. Sudah lepas 2 jam dari saat
aku keluar dari rumah untuk berkeliling, suasana di perumahan ini sungguh
berbeda dengan yang aku bayangkan selama ini. Dalam bayanganku, di Jakarta itu
rumah-rumah berdinding besar saling merapat berebut sejengkal tanah, manusia
berkutat didalam rumah tanpa interaksi, dan kesunyian akan terasa. Namun ini
sungguh berbeda, yang kulihat sejak tadi, banyak tukang cilok berkeliaran,
pedagang jasa sol sepatu, ibu-ibu duduk bersama di bangku taman atau di
bantaran depan rumah mereka, anak-anak kecil berlarian saling melempar senyum
dan tawa. Bahkan tak jarang ada yang memberikan senyum ramah padaku, yang
notabene adalah orang asing. Pepohonan yang tumbuh pun semakin menyejukkan
mataku. Kepalaku fokus tengok kekanan dan kekiri, aku terlalu
serius mengamati sekitar ku, sampai tiba-tiba.
“AAKH!”
BRUAK!
“gelap, apa yang terjadi?
Sepertinya aku menabrak sesuatu. Apa? Jangan-jangan aku menabrak kendaraan dan
sekarang aku sudah mati? Ah tidak, Ibu, Bapak, bagaimana ini? Aku belum
membahagiakan kalian, bagaimana bisa aku sudah mati duluan?”
Sembari sibuk berargumen dengan
pikiran sendiri, perlahan kubuka mataku, ah! Berat! Nyeri sekali. Tidak dapat
kurasakan kaki kiriku, bahkan terasa nyeri di bagian pinggul. Yang kuingat
terakhir hanya aku mendengar teriakan seorang pria. Beberapa detik setelahnya
aku bisa merasakan kembali seluruh tubuhku, dan menguasai penglihatanku. Betapa
terkejutnya aku, saat ini, diatasku. Ada sesosok makhluk, tengah tertelungkup,
dapat kulihat matanya yang terpejam. Wajahnya tepat dihadapan wajahku, dan
bibirnya menyentuh bibirku!!
“eum.. aaaaaaaaaaaa!” segera
kudorong tubuh itu menjauh. “ngh..” seperti di setrum, kakiku rasanya terkilir.
Dengan susah payah aku duduk diposisiku. Jantungku masih berdegup sangat
kencang saat sosok itu ikut terduduk sambil menepuk-nepuk kepalanya.
“k-k-kalau jalan lihat-lihat dong
mas!”
Kutatap wajah itu. Kesan pertama
yang aku dapatkan. Dia tampan. Sepertinya wajahku memerah sekarang.
“ha? Gue gak salah denger?” aku
menunduk ketika mata tajamnya itu menatap lurus mataku. “lu tuh yang gak liat-liat. Gak
punya mata?” segera kembali kutatap wajah orang itu. Kasar sekali!
“apa? Punya kok! Ni mata aku ada
2!” oke sepertinya aku mulai kesal, orang ini bicara seenaknya. Kulihat dia berdiri
dan membersihkan celananya.
Aku pun ikut berdiri secara perlahan, meski sangat
sulit karena ini terasa sakit sekali, namun aku berusaha tegar, gengsi dong.
Kulihat sekilas tanganku, sepertinya ada darah dikakiku. Untungnya aku
menggunakan celana jeans panjang, hingga luka ku tak begitu terlihat.
“lu kalo gak bisa naik sepeda,
semestinya kaga usah naik sepeda! Lu mau bunuh Gue? Lu---“ kalimatnya terhenti
sesaat ketika dengan kesal ku tatap wajahnya. Beberapa detik, kutampakkan wajah
heranku. Sepertinya ia terpaku akan sesuatu. Aku tau! Hm, jangan-jangan dia
jatuh cinta padaku. Hahaha memang tidak ada yang bisa menolak pesonaku.
“Lain kali kalo naik sepeda pake
mata sama otak lu! Sekarang gue lagi baik. Jadi gue lepasin lu. Kalo ketemu
lagi lain kali, gak bakal gue lepasin. Lu harus ganti rugi sama celana gue yang
robek ini” ultimatumnya membuatku ternganga. Dia berucap sambil menunjuk
robekan dicelananya yang memang agak besar. Kemudian melenggang pergi
meninggalkan gadis manis ini terpuruk dalam perasaan yang campur aduk. Kesal,
marah, malu, terlebih tadi itu CIUMAN PERTAMAKU!!! menyebalkan!.
“sshh! Sumpah sial aku hari ini.”
Aku pulang sambil mendorong sepedaku, kakiku terseok-seok. Sepertinya malam ini
aku tidak akan bisa tidur.
****************
Hwang Nana : Oppa L
Donglee Hae Part II: wae??
Hwang Nana : Besok hari pertama nana masuk kuliah xD doain semua lancar
yaaa XD
Donglee Hae Part II : haha pasti oppa doain, semangat ya.
Hwang Nana : hoho makasihhh XD oppa udh makan malem?
Donglee Hae Part II : hati-hati ya sama senior yang galak. Udah kok,,
oppa udah makan, nana?
Hwang Nana: iyaaaa... semoga gak ketemu sama orang yang nyebelin macem
sore itu oppa =.= awas aja kalo ketemu, mau nana cekek orang itu. Gara-gara dia
nana sampe harus relain waktu main nana Cuma dengan baringan dikasur
berhari-hari u,u . nana udah kok oppa ^^
Dan begitulah, setiap kejadian
dalam hidupku, selalu kuceritakan padanya. Couple
RP ku. Dan percaya tidak percaya, semakin lama rasa sayang itu tumbuh semakin
dalam. Kemisteriusannya membuatku semakin penasaran. Perhatian yang
diberikannya membuatku semakin gila. Siapakah dia sebenarnya? Bagaimana
wajahnya? Berapa usianya? Satu persatu bayangan wajah dan gambaran muncul di
otakku. Dari yang biasa sampai yang luar biasa. Aku terkikik membayangkan
segala kemungkinan tentang Coupleku ini.
****************
Hari terberat dalam hidupku!!!!
Akhhh aku paling benci namanya Ospek!! Tidak tahukah kalau ospek itu melanggar hak asasi manusia untuk hidup tenang, dilindungi, dan ini benar-benar
sebuah penindasan terhadap kaum yang lemah. Sejak pagi wajahku sudah terlipat,
bagaimana tidak? Pagi buta kami sudah harus berkumpul dikampus. Sedangkan
rumahku cukup jauh dari kampus, sehingga di jalan kami tetap terjebak macet.
Aku sampai terpaksa harus mengeluarkan sepeda dari mobil dan bersepeda
kekampus,, sambil membawa batako didalam tasku. Belum lagi wajah cemong-cemong
yang diharuskan senior, kalung papan nama dari kardus serta topi pesta ini
membuatku semakin terlihat seperti orang bodoh. Namun aku tidak boleh kalah
dengan rasa malu. Aku tidak boleh terlambat di hari pertama ku.
“sekarang diam dan berdiri
disini!”
“anak baru sudah berani
terlambat! Belum juga lu jadi mahasiswa disini, udah mau sok-sokan hah?”
Ck! Sial tidak ada habisnya,
meski sudah usaha sekuat tenaga ternyata sampai sini aku tetap terlambat. Dan
lihat? Mereka sepertinya bahagia sekali mendapat mangsa di hari pertama.
“angkat kaki kanan kamu, pegang
kuping kamu. Terlambat itu sebuah kejahatan kamu tau?”
Senior perempuan satu ini
membuatku benar-benar frustasi. Bukan hanya menyiksa,, tatapan matanya juga
bisa menusuk. Aku benci hari ini!
“wahh... ada murid baru yang
terlambat. Harusnya dikasih papan merah aja nih bang. Biar dia sadar
kesalahannya”
“ohh iya benar. Hukuman satu hari
kurang seru,.. hahaha”
What?? Kuangkat kepalaku karena
sedikit keberatan dengan tambahan hukuman yang diucapkan orang itu. Mataku
terbelalak. Mulutku ternganga. Aku tidak salah melihat kan? Dia orang yang
kemarin. Dia orang yang aku tabrak, dan orang yang mencuri ciuman pertamaku!!!
Double sial. Sepertinya aku harus mandi kembang nanti untuk buang sial. Kulihat
senior yang kutatap itu berjalan mendekat. Kemudian memajukan wajahnya semakin
dekat dengan wajahku.
“Kita ketemu lagi” ucapnya
perlahan namun cukup membuatku bergidik. Ia menampakkan senyum miringnya, lalu
kemudian kembali menjauh ke kerumunan. Aku ingin berkumpul ke barisan, namun
sekarang aku sedang pengesahan papan nama merah dengan para senior ini. Hukuman
selama seminggu. Habislah hidupmu Ika.
****************
Seminggu akhirnya berlalu.
Setelah penderitaan yang tidak ada habisnya, akhirnya berakhir sudah masa
orientasi mahasiswa ini. Saat ini kami tengah berkumpul di lapangan, dengan api
unggun besar yang menyala ditengah-tengah, diiringi musik-musik yang mengalun
pelan dari pengeras suara, kami diperintahkan untuk berbaris sementara para
senior membentuk lingkaran di sekitar api unggun. Aku bisa memaafkan senior
lain, kecuali manusia satu itu. Senior bernama Juan Daniel Permana. Tidak
seharipun dia membiarkan aku untuk tenang, bahkan sepertinya dia sudah
kelewatan, masa iya pada hari ke 3 dia membuatku 7 kali mondar mandir kantin
lapangan, hanya untuk menukarkan permen yang ingin dimakannya, maupun membeli
apa yang diinginkannya. Belum lagi perintah-perintah konyol lainnya yang dia
keluarkan untukku. Seperti memijat pundaknya atau bernyanyi untuknya. Dia
benar-benar telah menghilangkan kesabaranku. Tidak dapat dimaafkan!.
Para senior mengikatkan sebuah
gelang putih di tangan kami, kemudian berjabatan tangan sebagai bentuk
permintaan maaf. Sampai aku tiba pada mommen dimana aku harus berhadapan dengan
pria itu. Wajahku kusut dan terlipat. seakan enggan berlama-lama, aku segera
menarik tanganku menjauh darinya, namun dia menahan tanganku.
“seminggu yang menyenangkan,
kapan-kapan lagi ya?”
Seringainya kembali muncul
membuatku geli. Aku hanya merespon dengan senyuman cepat tidak ikhlas. Lalu
segera beralih ke senior selanjutnya.
Lega sekali. Akhirnya semuanya
berakhir. Begitulah pemikiranku.
****************
Hwang Nana : Oppa.. Love you ^^
Donglee Hae Part II : Love you too.. J
Hwang Nana : Happy 5th monthsarry oppa :3 akhirnya impian nana buat
monthsary ke 5 tercapai juga >.< makasih udah sabar ngadepin nana, meski
nana kayak gini xD
Donglee Hae Part II : Happy 5th monthsarry sayang ^^ haha. Jangan ngomong
gitu.
Hwang Nana : maaf nih nana hari ini agak sibuk karena atur jadwal xD
maklum mahasiswa baru :3 jadi gak bisa kasih kejutan monthsarry apa2 L
tapi beneran nana makasih nih sama oppa xD nana senyum-senyum sendiri sekarang
masa /.\
Donglee Hae Part II : nana udah kasih banyak hal buat oppa kok. Nana
jangan terlalu capek, jaga kesehatan ya ^^oppa sayang nana.
Senyumanku merekah membaca kata
demi kata darinya. Hatiku berbunga-bunga terasa seperti darahku berdesir ke
seluruh bagian tubuhku. Aku sekarang sadar. Bahwa aku jatuh cinta. Aku jatuh
cinta pada pria di dunia maya. Yang belum pernah aku lihat sebelumnya.
Pengalaman berhubungan di dunia palsu, tidak selalu lancar. Sudah terbilang
sering kami bertengkar dan putus nyambung, namun entah mengapa dengan banyaknya
kejadian itu, aku semakin menyayanginya. Apakah ini yang dinamakan cinta buta?
Apakah mungkin seseorang bisa jatuh cinta tanpa kontak fisik maupun saling
melihat? Jawabannya adalah bisa!. Aku sekarang tengah mengalami hal ini. Aku jatuh
cinta pada kepribadiannya, aku jatuh cinta pada sifatnya, aku jatuh cinta pada
cara dia memperlakukan aku. Bahkan sekarang aku jadi Fishy, pemancing? Bukan.
Fishy adalah sebutan untuk fans Dongae Super Junior. Meski tidak terlalu fanatik,
namun aku jadi menyukai Donghae di grup band Korea Super Junior.
****************
Satu hari yang cerah, ketika aku
tengah duduk sendiri di halaman belakang kampus, menunggu mata kuliah
selanjutnya. Sambil bermain peran (roleplay) di ponsel, tiba-tiba aku merasakan
kehadiran seseorang. Namun karena aku asik ber-drama* disebuah grup drama di
dunia rp, aku tidak begitu menghiraukannya.
“Pantas saja tidak punya teman.
Kerjaannya main hape terus”
Suara itu. Begitu mengusikku
sehingga mau tak mau, mataku beralih menatap si empunya suara berat yang khas
itu. Aku mengernyit melihatnya duduk di sisi pohon disampingku. Menghadap arah
yang berbeda denganku.
“mau ngapain bang?”
“jangan bang, Juan aja, atau a’a’
Juan?”
Aku kembali mengernyit mendengar
perkataannya. Lalu menggelengkan kepalaku. Mataku kembali terfokus ke ponsel.
Melanjutkan kegiatanku tadi.
“ahh gak seru. Kamu anak baru
kan? Udah keliling kampus ini?”
“euhm.” Aku mengangguk pelan
tanpa mengalihkan pandanganku.
“aku punya tempat yang mungkin
belum kamu liat dikampus ini”
“uhmmm” aku bergumam tanpa
mendengar dengan jelas perkataannya.
“sshh!”
“eh!” aku terkejut. Ponselku
tiba-tiba saja hilang dari pandanganku. Dan ternyata telah direbut oleh orang
di sampingku yang sekarang berjarak tak lebih dari sejengkal di sisiku.
“bang balikin! Juan!”
“nyuekin sih,, kapok hapenya aku
sita” aku cemberut melihat ekspresi jahil yang dikeluarkannya.
“balikin gak! Kalau gak--!” aku
menyipitkan mataku berusaha mengancam.
“kalau gak?” seakan menantang
ancamanku dia balik bertanya
“kalau gak—aku—“ aku apa ya?
“apa?”
“aku gak ngapa-ngapain, ayok
balikin!” aku menadah. Namun tidak disangka, bukannya handphoneku dikembalikan,
dia malah menarik tanganku berdiri lalu berjalan menjauh dari pohon.
“mau kemana sih?”
“ikut aja. Aku ajak jalan-jalan”
“kurang kerjaan ah. Emang lagi
gak ada kuliah?”
“gak ada.”
“terus kenapa kekampus?”
“pengen aja”
“pengen apa?”
“udah diem aja sst!”
Aku menghela napas panjang dan
pasrah saja ditarik pria ini entah kemana. Awas saja kalau mengajakku ke tempat
sepi. Atau berbuat macam-macam. Aku sudah menyimpan jurus bela diri sejak lama
yang bisa digunakan untuk melindungi diri dari keadaan terancam. Setelah
berjalan beberapa lama bahkan naik tangga. Akhirnya kami sampai di suatu
tempat. sebuah gedung belum jadi yang kosong dindingnya belum berdiri, hanya lantai yang luas dengan tiang-tiang beton. Dan benar tempatnya sunyi sekali.
“sepi amat. Ini dimana?”
“tempat favorit aku dikampus”
“favorit? Cuma lantai kosong
gini, gak takut?” pandanganku menyapu sekitar. Lalu kulihat Juan berjalan ke
pojok gedung. Aku pun menyusul berdiri disampingnya
“woaahh....” mataku terbelalak,
indah sekali. Dari sini aku bisa melihat seluruh wilayah kampus bahkan beberapa
fakultas lain pun terlihat dari sini. Manusia berlalu lalang, juga kumpulan
orang yang sepertinya memiliki kisah mereka masing-masing. Aku tersenyum
menatap pemandangan dari atas sini. Tanpa sadar ada yang terus memandangiku
sejak tadi.
“keren kan? Aku kesini kalo lagi
bosen rame, atau lagi males ngapa-ngapain tapi bosen dirumah. Kalo gak disini
ya dirumah temen” curhatnya. Aku mendengar ucapannya namun mataku masih
terfokus memandangi hadapanku.
Saat kualihkan penglihatanku, aku sudah melihat
Juan mengambil posisi di sudut ruangan yang lain, duduk disebuah bantaran beton
besar, disertai sebuah gitar.
“hmm.. bisa main gitar?” tanyaku
sambil menghampirinya
“bisa dong. Dulu pernah ngeband”
“wahhh masa sih? Jadi apa?
Jangan-jangan jadi tukang gulung kabel”
“enak aja. Yang jelas hampir
semua jenis alat musik aku bisa”
Yaah keren juga seniorku satu
ini. Beberapa menit kami lalui sambil bercanda dan bernyanyi bersama. Aku mulai
melupakan dendamku padanya. Dan mulai merasakan nyaman. Sampai saatnya aku
harus kekelas untuk menghadiri kuliah. Setelah itu pun aku jadi sering
ke tempat itu, ada atau tidak ada Juan disana. Lebih adem dan lebih nyaman
ketibang dibawah pohon.
*Drama : kegiatan dalam dunia roleplay yang mengharuskan
rolelplayers mengeluarkan karakternya dalam sebuah cerita. Disertai bentuk
gerakan yang dilambangkan dengan tanda bintang (*berjalan*) atau slash
(/memeluk). Biasanya duel dengan roleplayers lain dengan alur yang tidak
tertebak.
****************
“bagaimana iniiiii~ apa ini yang
dinamakan selingkuh?” saat ini aku sedikit frustasi dengan yang aku rasakan,
sepertinya sekarang aku telah menduakan Couple rp ku. Akhir-akhir ini aku jadi
semakin senang berdekatan dengan seniorku dikampus. Sampai aku menyadari, bahwa
aku mulai menyukai seniorku itu, Juan.
“huueee... oppa maafin nana oppa”
kutatap poster Donghae dikamarku. Sambil mengelus pipinya penuh penyesalan.
“aku jadi kangen oppa, online ahh
semoga dia juga on deh.” Kukeluarkan laptop dan mulai menjelajah dunia maya.
Hwang Nana : met malem oppaaaa~~ aaa senengnya kita bisa on bareng xD
Donglee Hae Part II : malem nana ^^ iya nih kangen banget. Haha
Hwang Nana :sama nana juga kangen banget >.< Oppa, nana mau jujur, L
kayaknya nana suka sama senior nana T^T
Donglee Hae Part II: ciee... yang bener? Siapa?
Hwang Nana: oppa gak marah kan? :’’ senior nana.. padahal dia orangnya
ngeselin dan bikin nana marah2 terus. Tapi kayaknya nana....... :’
Donglee Hae Part II : oppa gak marah. Gimanapun nana harus ngejar real
nana J
kalo nana butuh oppa.. oppa akan selalu nunggu disini.
Hwang Nana : Hueee :’’ makasih oppa >.< tapi nana sayang oppa :’’’
nana bingung :’’
Donglee Hae Part II : nana harus ngutamain real nana ^^ makasih udah
sayang sama oppa.
Hwang Nana : sedih jadinya :’’ oh ya oppaa~~ masih belum mau kasih tau
oppa asal mana hm?
Donglee Hae Part II : mau tau banget ya? :3
Hwang Nana : iyalaaahh >.< kemarin nana berhasil nebak tanggal
lahir sama bulan lahir oppa xD senengnya xD
Donglee Hae Part II: apaan? Orang yang kasih tau... :p
Hwang Nana : oppa kan Cuma kasih clue aja,, nana yang nebak :p oppa
asal mana? >.<
Donglee Hae Part II : oppa Jakarta Selatan. Mau ketemuan?
“whaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!” aku
reflek berteriak membaca pesan terakhirnya.
“apa sih kak? Ribut banget” tak
kuhiraukan perkataan adikku yang sedang mengerjakan PR
“BOHONG KAAANN?” dadaku bergemuruh
kencang. Nafasku mendadak tercekat. Ku telan dengan susah payah liurku. Dibilang
bohong? Aku benar-benar terkejut!!.
“ribuut!” Kiky segera beranjak
dari sampingku dan pindah kekamarnya. Tapi masih tidak kuhiraukan. Ini lebih
penting. Dia satu wilayah denganku???
Donglee Hae Part II: Nana??
Hwang Nana : eh? Uh,,, iya opp,,, abis shock ceritanya, haha
Donglee Hae Part II : masa iya? Jadi gimana??
Hwang Nana : MAU!! Mau banget... tapi tapi,,, oppa bukan om om mesum
yang perutnya buncit kan? Atau anak SMP yang ingusan, yang pake seragam sekolah
tiap saat, atau atau,, kakek-kakek hidung belang >.<
Donglee Hae Part II : =.= semua aja yang jelek2 disebut
Hwang Nana : ehehe,, miann xD abisnya kan oppa kalo dimintain foto gk
pernah mau xD
Donglee Hae Part II : bukannya gak mau, Cuma malu aja, oppa jelek :3
Hwang Nana : >.< nana deg2an xD
Donglee Hae Part II : besok jam 2, di cafe ****
Hwang Nana : waaaahh seriusan ini? xD cafenya deket kampus nana opp o.o
okedeh besok nana mau telat biar oppa nunggu :3
Donglee Hae Part II : oke deh, dandan yang cantik ya. Skg tidur sana.
“OUUUUUUU EMMMMMM JIIIIIIIIIII.....
mimpi apa aku semalam?” aku berguling-guling dikasur. Bantal dan guling menjadi
sasaran kegembiraanku yang berlebihan. Seprai kasurku tak lagi pada tempatnya,
pembungkus bantal dan gulingku sudah terbang entah kemana. Malam ini
benar-benar penuh kejutan. Aku tidak sabar menunggu besok. Ahh sepertinya aku
akan susah tidur karena senyuman ini tidak ingin hilang sedetikpun. Bagaimana ini???
Aku terus terbayang kata-katanya.
“Mau ketemuan?”
“Mau Ketemuan?”
“Mau Ketemuan?”
Dengan ke alay-an itu akhirnya
aku tertidur pulas, dengan senyuman yang masih merekah. Mimpiku malam ini akan
sangat indah.
****************
Entah sudah keberapa puluh kali,
kupatut wajahku didepan cermin kaca cafe ini. Kulihat jam. Kenapa waktu lama
sekali berjalan? Aku merasa sudah lama semenjak aku duduk disini, tapi kenapa
masih jam 10?
“mas! Orange jusnya 1 lagi”
Ini sudah orange jusku yang ke 3.
4 kali lagi maka aku akan masuk On The Spot.
Tik tok tik tok tik tok...
Kenapa tiba-tiba ada kelinci yang
masuk ke dalam cafe? Membuatku terkejut ketika tiba-tiba segerombol kelinci
masuk dan memenuhi lantai cafe. Mereka sangat lucu, namun memiliki mata yang
merah menyeramkan. A-apa ini sebuah penyerbuan alien? Apa aku berada ditempat
yang salah pada waktu yang salah?
Bagaimana ini? Aku tidak bisa
bertemu dengan Donghae oppa? Tidak! Aku harus bisa bertemu dengannya. Mau apa
kau kelinci? Kau tidak akan bisa mengusikku dari sini. Kulemparkan kelinci-kelinci
itu menjauh dariku, namun mereka semakin banyak dan mendekatiku. Jantungku berdetak
kencang. Ada kelinci yang berhasil mencengkram pundakku!!! Tolonng!!
“euhmm.... nym nym” dalam
hitungan detik, semua suasana ricuh dan kisruh tadi berubah, aku seketika
berada di dunia lain. Mata ku berkedip perlahan mengumpulkan nyawa dan
kesadaranku. Kemudian dengan cepat mataku terbelalak.
“sial! Ketiduran!” gumamku sambil
mengusap sudut bibirku takut2 ada cairan yang keluar dari sana.
“bagaimana bisa kamu tidur
ditempat umum begini? Hm?” kutolehkan kepalaku ke asal suara, lalu
mengernyitkan alis melihat pria yang memakai kemeja kotak berwarna cokelat dan
celana jeans.
“Juan? Ngapain disini?” aku
terheran karena melihatnya berdiri disampingku lalu berjalan dan duduk
dihadapanku.
“mau ketemu seseorang” kulihat ia
menatapku lekat sambil tersenyum simpul
“ilernya masih ada tuh”
“sshpp..” segera kuusap sudut
bibirku yang lain yang belum kubersihkan “um,, mana gak ada apa2”
“hahaha...” aku cemberut
melihatnya tertawa
“dihhh malah ketawa. Eh ya..
betewe, jangan duduk disitu. Aku lagi nunggu seseorang. Dan itu tempat duduk
dia”
“disini? Masa sih? Kayaknya ini
tempat duduk aku deh”
“hah? Bukan bukan, temen aku, dia
belum dateng.” Kulihat Juan menggelengkan kepalanya. Kemudian menjulurkan
tangannya.
“Hai Nana.. Kenalkan Donglee Hae”
senyumannya yang begitu tulus dan terlihat berbeda. Aku seakan melihat Juan
yang lainnya. Dan responku? Aku hanya ternganga tanpa tau harus berbuat apa. Double
shock! aku benar-benar kaget bahkan lebih kaget dari semalam sekarang.
“kok diem?”
“ih-iyah” salah tingkah, segera
kujabat tangannya yang menjulur dengan kedua tanganku. Lalu menelan liurku
dengan susah payah. Aku masih terpaku dan tidak percaya dengan apa yang aku
alami. Aku menyukai orang yang sama. Benar-benar melegakan, sekaligus susah
diterima logika.
“syuh-syukurlah” gumamku tanpa sadar
sambil menghela napas ringan. Aku menarik kembali tanganku lalu tersenyum penuh
lega. Karena ternyata aku tidak selingkuh. Aku menyukai orang yang sama.
Donglee atau Juan.
“kenapa?”
“hah? Ngh.. syukurlah... bukan om
om mesum berperut buncit. Hehehe”
“isshhh... dasar.”
“tapi aku bener-bener kaget. Kok bisa
itu lho.”
“ya.. aku juga gak nyangka. aku udah sadar kalau kamu nana semenjak pertama kita ketemu sore itu. Sampai rumah
aku langsung meriksa lagi foto yang kamu kirim, dan percaya gak percaya, ternyata aku ngeliat kamu secara langsung. lalu buat menguji mental kamu. Aku ngetes-ngetes
sedikit” kulihat dia menahan senyumannya.
“wait! Berarti selama ini kamu sengaja ngerjain aku? Berarti selama ini aku
curhat tentang kamu keee kamu, gitu?”
“kalo dibilangin ngerjain eum, gak kayaknya..cuma iseng aja. curhat? eum.. bisa dibilang begitu....”
ia sengaja mengeluarkan ekspresi berpikir yang menyebalkan, sedang wajahku
memerah karena malu
“jahatnyaaa~ kan maluuu” kututup
wajahku yang memanas dengan tangan
“santai aja.. lumayan ngehibur
aku yang lagi bosen, eh ini punya kamu semua? 6 gelas?”
“ya Tuhan.. mau di kantongin
dimana nih muka?” gumamku
“Huum punya aku semua hehe”
“dari jam berapa disini? katanya mau datang terlambat,
jadi aku juga nyantai. Kamu tuh sesuatu banget ya Ika eum Nana?”
Mengingatkanku pada kegiatanku
setiap hari dengan Username Donglee Hae Part II, yang sekarang aku tau bahwa
dia senior yang aku suka. Ada perasaan bahagia yang menyeruak dalam dadaku. Kehidupan datar dan monotone yang dahulu
aku kira akan kujalani selamanya, ternyata dengan sekejap berubah menjadi
berwarna dan penuh macam rasa. Siang itu kami habiskan dengan berbincang sambil
menceritakan kisah bermain rp yang kami lakukan sebelumnya. Berawal dari
roleplay, berakhir dengan kisah nyata yang manis. Aku berharap akan selamanya
bisa bersamanya.
****************
“semangat kerjanya ya hari ini
sayangku” ujarku sambil memperbaiki dasi pria dihadapanku ini.
“pasti sayang.. kayaknya hari ini
ayah banyak client..jadi ayah pulang agak malem” ekspresi wajahnya menyiratkan
sedikit tidak rela bila pulang lebih larut. Sekilas aku cemberut manja namun
kemudian tersenyum tulus.
“bunda bakal doain ayah dari
sini. Sayang harus fokus kerjanya. Demi menafkahi bunda,, abang sama dedek.” Aku
senang, wajahnya yang tadi kendur sudah kembali menguat. Tersenyum manis.
“ayah sayang bunda” sebuah
kecupan kecil mendarat di bibir dan keningku. Memang sudah menjadi kebiasaan,
setiap sebelum berangkat bekerja. Ia akan memberikan kecupan padaku.
“aaayaaah~~ apang au langkat kolah..
aok ta langkat. Ntal apang telat”
“eehh jagoan ayah...” Juan
menggendong Daniel, anak tertua kami yang saat ini duduk dibangku TK. Pemandangan
yang indah saat memulai hari.
“ayok deh kita berangkat.. ayah
juga bisa-bisa telat nih. Salim dulu sama bunda”
“ndaaa~” anakku meraih tanganku
lalu mengcup punggung tanganku.
“pinternya anak bunda. Semangat belajar
sayang, nanti bunda jemput abang bareng dedek Khansa”
“oke ndaa...” ujarnya sembari
mengacungkan jempol tangannya.
“sayang.. berangkat dulu ya..”
Juan mengecup keningku sekali lagi sebagai perpisahan, karena seharian tak akan
bertemu. Lalu beranjak ke mobil untuk berangkat ke medan perang.
Aku tersenyum sambil melambai
mengantar kepergian mereka. Betapa melegakannya kehidupanku saat ini. Jalan hidup
memang tidak akan ada yang tau akan mengalir kemana. Sudah hampir 5 tahun
menikah, namun aku masih tidak menyangka bagaimana kisah cintaku berjalan
sampai seperti ini. Berawal dari dunia maya. Sampai pada pertemuan pertama. Lalu
pria yang menjadi suamiku itu memintaku menjadi pacarnya. Kemudian melamarku. Semua
terasa seperti mimpi. Dia adalah cinta pertamaku, lelaki pertamaku, ciuman
pertamaku, dan suamiku. Semenjak bertemu dengannya, aku merasa memiliki kisah
cintaku sendiri, dramaku sendiri, filmku sendiri.
“ngeaakk... ngeaakkk...”
“Khansa”
Lamunanku terhenti saat aku
mendengar isak tangis anak keduaku yang begitu nyaring. Sepertinya dia sudah
bangun dan haus. Segera saja ku berlari kecil menghampirinya. Kisahku masih
panjang. Dan aku percaya, akan banyak hal baru yang akan aku alami. Karena hidup
akan terus mengalir sampai nyawa tak lagi di raga.