Sabtu, 19 Desember 2015

Roleplay and Love


Sekilas pengantar. aku buat cerita ini demi memenuhi tantangan dari seseorang nun jauh disana. Juan Aditya Permana. my only love :* jangan ketawa ya sayang.... bunda masih amatiiran xD cerita sayng bunda tunggu xD

**********************************************************************


Namaku Ika Yunita Dini, panggil saja Ika. Aku hanyalah gadis biasa dari keluarga yang biasa dan dengan kisah yang biasa-biasa saja. Setiap hari rutinitasku tak jauh berbeda. Berangkat sekolah, pulang, makan, tidur siang, nonton tv, makan, dan tidur lagi. Tidak ada yang menarik dari hidupku ini—begitulah yang kupikirkan—. Namun ada satu hal yang aku suka dari rutinitasku, yaitu nonton. Kenapa? Karena aku senang melihat bagaimana setiap film menunjukkanku kisah yang berbeda-beda, bagaimana sebuah film mengangkat cerita yang berwarna. Meski sering pula aku hanya ribut berkomentar mengenai film yang kadang tidak masuk akal, namun bagiku melihat sebuah kisah baru adalah menyenangkan, hm pelarian dari kisah hidupku yang datar- datar saja mungkin. Aku senang dengan semua jenis film, namun yang paling aku senangi adalah genre romantic, aahh membayangkan hati berbunga-berbunga setelah menyaksikan kisah cinta romansa di film dan drama, membuatku seringkali bermimpi indah.

“haah,, kapan aku punya kisah cintaku sendiri?” gumamku sembari meletakkan mug teh hangat disamping laptop. Sudah 2 hari ini aku “menggarap” drama Jepang ini. Dan akhirnya aku sampai pada episode terakhir, lega sekaligus tidak rela.

“IKAAAAAAA!!!! BERAPA LAMA LAGI KAMU MAU TIDUR? BANGUNNN!!”

“Oops! Ratu rimba” aku segera menutup laptop dan mengamankan ditempat yang aman—dibawah bantal—sebelum pintu kamarku berhasil dibuka oleh Ratu Rimb-ralat- Ibuku. Dengan tergupuh-gupuh aku segera masuk kedalam selimut. Bersiap mengeluarkan acting terbaikku, yah aku baru bangun tidur.

BRAKKK!!

“uhmm... ibu... Ika masih gak enak badan” maafkan aku berbohong Tuhan, sekali ini saja.

“ckckck,, masa iya belum sehat? Tapi tadi ibu liat kamu kedapur bikin teh” sembari melipat tangan, ibuku menatapku penuh selidik.

“yaah,,, itu aja masih pusing” jangan kutuk anakmu ini Ibu.

“hhhh.... yasudah... nanti adek kamu ibu suruh bawa makan siang kesini...” aaahh.... Ibuku tercinta,, terima kasihhh.. ibu memang yang terbaik.Aku tersenyum simpul menanggapi perkataan ibu, aku orang sakit kan? Hehe. Sesaat setelah ibu menutup pintu aku menghela napas lega.

“saatnya tiduuur~” kutarik selimutku menutupi seluruh bagian tubuh dan wajahku. 2 hari tidak tidur memang memberi efek yang buruk. Namun jangan salahkan aku, film itu terlalu unik sehingga aku tak sabar menyaksikan ceritanya hingga akhir. Mau bagaimana lagi. Seharian pada hari itu aku berhibernasi, bangun hanya untuk makan siang lalu tidur lagi, hingga keesokan paginya. 

Tuntas sudah pembalasan dendamku. Pagi ini aku bangun dengan tubuh yang segar bugar. Wajahku yang ceria sudah kembali bersemayam.

“Selamat pagi semuanyaaa... ang..eumm,, enak...” segera kulahap nasi goreng buatan ibuku. Mengisi tenaga dipagi hari, Karena seharian ini aku akan banyak kegiatan disekolah. Maklum sudah duduk di semester akhir. Yap aku adalah murid SMA kelas 3, detik-detik menjelang ujian akhir namun itu tidak menghentikan hobi menontonku. Tidak ada apapun dan seorangpun yang bisa menghentikanku.

“Ika berangkat dulu ya, bu, pak, dek.” Kukecup tangan kedua orang tuaku, dan hanya menepuk kepala adikku. Dengan semangat kukayuh sepedahku menuju ke sekolahku tercinta. Aku siap menjalani hari ini.

****************
“Kalian mainan apaan sih? Kok pada serius gini?”
“ohh ini ka,, namanya RP”
“RP? Rupiah?”
“isshh bukan, roleplay”
“apaan tuh?”
“hm... liat aja nih sendiri.. ini akun aku”
“Hong Yonggi, kamu jadi orang korea Ono?”
“yaps.. ini nih kayak kita jadi orang lain, dengan karakter yang bukan diri kita sama sekali” kutatap Ono teman sekelasku penuh minat. Menjadi orang lain? Artinya melihat dari sudut pandang mata lain. Artinya melepas kehidupan yang dimiliki saat ini untuk menjalani hidup yang lain. Entah kenapa dibayanganku, ini keren!
“bener tuh ka, aku juga main, seru banget.”
“Tika juga main? Tika jadi siapa?”
“Kalo aku jadi Lee Hyangsuk, Ulzzang* Korea”
“wahh, sepertinya asik. Aku pengen gabungan dong”
Yah dengan begitu aku resmi bergabung dengan komunitas Roleplayers. Membagi waktuku, tidak hanya untuk belajar dan nonton film, namun juga bertambah untuk menatap handphone, eksis dalam dunia roleplay.

*Ulzzang : tokoh berwajah super cantik artis Internet.
****************


3 bulan sudah aku aktif bermain di dunia maya, sungguh pengalaman yang luar biasa. Aku benar-benar menikmati saat-saat aku menjadi orang lain. Aku seperti bermain dalam sebuah film dan aku harus menguasai semua naskahnya. aku bisa merasakan bagaimana berpikir dengan karakter sikap yang lain, intinya aku benar-benar menyukai ini. Semakin terbuai dalam dunia maya aku semakin malas. Aku hampir tidak memikirkan masa depanku sama sekali. Bahkan untuk ujian aku hanya membaca materi ujian sekali dua kali. Teman-temanku sibuk berpencar mencari perguruan tinggi, namun aku masih asik dengan poselku. Namun tak ayal terkadang aku bosan juga saat aku malas melakukan apapun di dunia palsu itu, Hingga pada suatu hari, aku berbincang dengan seseorang di RPW, melalu Obrolan pribadi.

“Donglee Hae Part II, orang ini menarik juga.” Beberapa lama mengobrol aku semakin penasaran dengan Username ini. Aku jadi ketagihan berbicara dengannya. Setiap hari aku membuka ponsel aku berharap menemukan dia di deretan Online. Roleplayer dari Lee Donghae Super Junior ini sedikit menyita perhatianku. Aku yang sebelumnya asing dengan makhluk bernama pria, entah mengapa merasakan sesuatu pada orang ini. Meski aku belum tahu pasti mengenai rasa apa itu.

Hari demi hari berlalu, aku dan Donghae semakin dekat, kami bahkan memutuskan untuk memasang status hubungan di dunia palsu itu. Aku suka perasaan-perasaan baru yang aku rasakan saat aku berbicara dengannya. Begitu asing, namun menggairahkan. Semakin lama aku semakin penasaran dengannya, namun yang membuatku kesal adalah kemisteriusannya. Dia bahkan tidak ingin memberi tahuku nama aslinya. Padahal aku sudah sangat terbuka padanya. Biodata pribadi bahkan foto asliku telah kuberikan padanya, meskipun ia tidak meminta.

Hwang Nana : Nama oppa siapa sih?

Donglee Hae Part II: Secret :p

Hwang Nana: aah, oppa,, nana serius.. kan penasaran..

Donglee Hae Part II: nanti juga tau kok.. sabar ya..

“aahh,, nyebelin amat sih nih orang,, apaan coba pake rahasia segala” Meski kesal, kami terus berbincang hingga larut malam, sampai ia tak lagi membalas karena mungkin telah tertidur. Hanya bertukar kata, membuatku semakin lama ingin tau lebih dalam mengenai dirinya. Kutepuk pipiku, aku tidak boleh terlena. Aku harus lulus UN dengan nilai bagus terlebih dahulu.

“sekarang AYO BELAJAR~~~”
****************


“Ibu, capek...”
“Dikit lagi,, ini angkat mejanya kedalam.”
“hahh,, siap bos”
Sudah hampir 3 jam kami melakukan ini, memindahkan barang demi barang menyusunnya disini, dirumah baru kami. Setelah lulus Ujian Nasional dengan nilai yang standar saja, dan diterima di perguruan tinggi di Jakarta, yang aku yakin hanya kebetulan semata bisa lulus disana. Tiba-tiba orang tuaku memutuskan untuk pindah rumah, alasannya? Karena sejak dulu aku tidak diperkenankan untuk ikut campur masalah orang tua, jadi aku sampai sekarang tidak tau alasan kepindahan kami ke Jakarta. Jakarta? Ya! Jakarta. Kota metropolitan yang menjadi banyak setting film dan sinetron di tv.

Diam-diam aku tersenyum sambil membayangkan akan menelusuri kota Jakarta untuk mengunjungi lokasi-lokasi yang biasa dijadikan tempat syuting. Jadi turis lokal sepertinya asik juga. Ini adalah kali pertama aku ke Jakarta. Dan rasanya WOW! Aku begitu bersemangat.

“ngapain senyum-senyum sambil natap rak lemari? Gila ya?” Aku terkesiap mendengar suara.
“Ihhh bikin kaget aja kamu”
“Kakak sih, senyum-senyum gak jelas gitu” Kiky berlalu sambil memeluk bantalan sofa. Kiky adikku, dia memang selalu menjengkelkan, anak laki-laki berusia 12 tahun. Hm, meski begitu aku sayang dia, kadang kalau sudah datang baiknya, dia selalu mau bila aku suruh ke warung untuk membeli snack.
“haahh... sebaiknya aku cepat kalau mau jalan-jalan”
****************


Ketika angin mulai menyejuk, lazuardi masih ceria membiru. Meski ini sudah lewat jam 5 sore, namun langit masih enggan berubah warna menjadi kemerahan. Membuatku semakin bersemangat mengayuh sepeda gayungku menyusuri kompleks perumahan di sekitar rumah baru ku. Aku orang yang mudah penasaran, sehingga bukan Ika namanya yang berkesempatan berkililing namun tak menggunakannya dengan baik. Sudah lepas 2 jam dari saat aku keluar dari rumah untuk berkeliling, suasana di perumahan ini sungguh berbeda dengan yang aku bayangkan selama ini. Dalam bayanganku, di Jakarta itu rumah-rumah berdinding besar saling merapat berebut sejengkal tanah, manusia berkutat didalam rumah tanpa interaksi, dan kesunyian akan terasa. Namun ini sungguh berbeda, yang kulihat sejak tadi, banyak tukang cilok berkeliaran, pedagang jasa sol sepatu, ibu-ibu duduk bersama di bangku taman atau di bantaran depan rumah mereka, anak-anak kecil berlarian saling melempar senyum dan tawa. Bahkan tak jarang ada yang memberikan senyum ramah padaku, yang notabene adalah orang asing. Pepohonan yang tumbuh pun semakin menyejukkan mataku. Kepalaku  fokus tengok kekanan dan kekiri, aku terlalu serius mengamati sekitar ku, sampai tiba-tiba.

“AAKH!”

BRUAK!

“gelap, apa yang terjadi? Sepertinya aku menabrak sesuatu. Apa? Jangan-jangan aku menabrak kendaraan dan sekarang aku sudah mati? Ah tidak, Ibu, Bapak, bagaimana ini? Aku belum membahagiakan kalian, bagaimana bisa aku sudah mati duluan?”

Sembari sibuk berargumen dengan pikiran sendiri, perlahan kubuka mataku, ah! Berat! Nyeri sekali. Tidak dapat kurasakan kaki kiriku, bahkan terasa nyeri di bagian pinggul. Yang kuingat terakhir hanya aku mendengar teriakan seorang pria. Beberapa detik setelahnya aku bisa merasakan kembali seluruh tubuhku, dan menguasai penglihatanku. Betapa terkejutnya aku, saat ini, diatasku. Ada sesosok makhluk, tengah tertelungkup, dapat kulihat matanya yang terpejam. Wajahnya tepat dihadapan wajahku, dan bibirnya menyentuh bibirku!!

“eum.. aaaaaaaaaaaa!” segera kudorong tubuh itu menjauh. “ngh..” seperti di setrum, kakiku rasanya terkilir. Dengan susah payah aku duduk diposisiku. Jantungku masih berdegup sangat kencang saat sosok itu ikut terduduk sambil menepuk-nepuk kepalanya.
“k-k-kalau jalan lihat-lihat dong mas!”
Kutatap wajah itu. Kesan pertama yang aku dapatkan. Dia tampan. Sepertinya wajahku memerah sekarang.
“ha? Gue gak salah denger?” aku menunduk ketika mata tajamnya itu menatap lurus mataku. “lu tuh yang gak liat-liat. Gak punya mata?” segera kembali kutatap wajah orang itu. Kasar sekali!
“apa? Punya kok! Ni mata aku ada 2!” oke sepertinya aku mulai kesal, orang ini bicara seenaknya. Kulihat dia berdiri dan membersihkan celananya. 

Aku pun ikut berdiri secara perlahan, meski sangat sulit karena ini terasa sakit sekali, namun aku berusaha tegar, gengsi dong. Kulihat sekilas tanganku, sepertinya ada darah dikakiku. Untungnya aku menggunakan celana jeans panjang, hingga luka ku tak begitu terlihat.
“lu kalo gak bisa naik sepeda, semestinya kaga usah naik sepeda! Lu mau bunuh Gue? Lu---“ kalimatnya terhenti sesaat ketika dengan kesal ku tatap wajahnya. Beberapa detik, kutampakkan wajah heranku. Sepertinya ia terpaku akan sesuatu. Aku tau! Hm, jangan-jangan dia jatuh cinta padaku. Hahaha memang tidak ada yang bisa menolak pesonaku.

“Lain kali kalo naik sepeda pake mata sama otak lu! Sekarang gue lagi baik. Jadi gue lepasin lu. Kalo ketemu lagi lain kali, gak bakal gue lepasin. Lu harus ganti rugi sama celana gue yang robek ini” ultimatumnya membuatku ternganga. Dia berucap sambil menunjuk robekan dicelananya yang memang agak besar. Kemudian melenggang pergi meninggalkan gadis manis ini terpuruk dalam perasaan yang campur aduk. Kesal, marah, malu, terlebih tadi itu CIUMAN PERTAMAKU!!! menyebalkan!.
“sshh! Sumpah sial aku hari ini.” Aku pulang sambil mendorong sepedaku, kakiku terseok-seok. Sepertinya malam ini aku tidak akan bisa tidur.
****************


Hwang Nana : Oppa L

Donglee Hae Part II: wae??

Hwang Nana : Besok hari pertama nana masuk kuliah xD doain semua lancar yaaa XD

Donglee Hae Part II : haha pasti oppa doain, semangat ya.

Hwang Nana : hoho makasihhh XD oppa udh makan malem?

Donglee Hae Part II : hati-hati ya sama senior yang galak. Udah kok,, oppa udah makan, nana?

Hwang Nana: iyaaaa... semoga gak ketemu sama orang yang nyebelin macem sore itu oppa =.= awas aja kalo ketemu, mau nana cekek orang itu. Gara-gara dia nana sampe harus relain waktu main nana Cuma dengan baringan dikasur berhari-hari u,u . nana udah kok oppa ^^

Dan begitulah, setiap kejadian dalam hidupku, selalu kuceritakan padanya. Couple RP ku. Dan percaya tidak percaya, semakin lama rasa sayang itu tumbuh semakin dalam. Kemisteriusannya membuatku semakin penasaran. Perhatian yang diberikannya membuatku semakin gila. Siapakah dia sebenarnya? Bagaimana wajahnya? Berapa usianya? Satu persatu bayangan wajah dan gambaran muncul di otakku. Dari yang biasa sampai yang luar biasa. Aku terkikik membayangkan segala kemungkinan tentang Coupleku ini.
****************


Hari terberat dalam hidupku!!!! Akhhh aku paling benci namanya Ospek!! Tidak tahukah kalau ospek itu melanggar hak asasi manusia untuk hidup tenang, dilindungi, dan ini benar-benar sebuah penindasan terhadap kaum yang lemah. Sejak pagi wajahku sudah terlipat, bagaimana tidak? Pagi buta kami sudah harus berkumpul dikampus. Sedangkan rumahku cukup jauh dari kampus, sehingga di jalan kami tetap terjebak macet. Aku sampai terpaksa harus mengeluarkan sepeda dari mobil dan bersepeda kekampus,, sambil membawa batako didalam tasku. Belum lagi wajah cemong-cemong yang diharuskan senior, kalung papan nama dari kardus serta topi pesta ini membuatku semakin terlihat seperti orang bodoh. Namun aku tidak boleh kalah dengan rasa malu. Aku tidak boleh terlambat di hari pertama ku.

“sekarang diam dan berdiri disini!”
“anak baru sudah berani terlambat! Belum juga lu jadi mahasiswa disini, udah mau sok-sokan hah?”
Ck! Sial tidak ada habisnya, meski sudah usaha sekuat tenaga ternyata sampai sini aku tetap terlambat. Dan lihat? Mereka sepertinya bahagia sekali mendapat mangsa di hari pertama.

“angkat kaki kanan kamu, pegang kuping kamu. Terlambat itu sebuah kejahatan kamu tau?”
Senior perempuan satu ini membuatku benar-benar frustasi. Bukan hanya menyiksa,, tatapan matanya juga bisa menusuk. Aku benci hari ini!

“wahh... ada murid baru yang terlambat. Harusnya dikasih papan merah aja nih bang. Biar dia sadar kesalahannya”

“ohh iya benar. Hukuman satu hari kurang seru,.. hahaha”

What?? Kuangkat kepalaku karena sedikit keberatan dengan tambahan hukuman yang diucapkan orang itu. Mataku terbelalak. Mulutku ternganga. Aku tidak salah melihat kan? Dia orang yang kemarin. Dia orang yang aku tabrak, dan orang yang mencuri ciuman pertamaku!!! Double sial. Sepertinya aku harus mandi kembang nanti untuk buang sial. Kulihat senior yang kutatap itu berjalan mendekat. Kemudian memajukan wajahnya semakin dekat dengan wajahku.

“Kita ketemu lagi” ucapnya perlahan namun cukup membuatku bergidik. Ia menampakkan senyum miringnya, lalu kemudian kembali menjauh ke kerumunan. Aku ingin berkumpul ke barisan, namun sekarang aku sedang pengesahan papan nama merah dengan para senior ini. Hukuman selama seminggu. Habislah hidupmu Ika.
****************


Seminggu akhirnya berlalu. Setelah penderitaan yang tidak ada habisnya, akhirnya berakhir sudah masa orientasi mahasiswa ini. Saat ini kami tengah berkumpul di lapangan, dengan api unggun besar yang menyala ditengah-tengah, diiringi musik-musik yang mengalun pelan dari pengeras suara, kami diperintahkan untuk berbaris sementara para senior membentuk lingkaran di sekitar api unggun. Aku bisa memaafkan senior lain, kecuali manusia satu itu. Senior bernama Juan Daniel Permana. Tidak seharipun dia membiarkan aku untuk tenang, bahkan sepertinya dia sudah kelewatan, masa iya pada hari ke 3 dia membuatku 7 kali mondar mandir kantin lapangan, hanya untuk menukarkan permen yang ingin dimakannya, maupun membeli apa yang diinginkannya. Belum lagi perintah-perintah konyol lainnya yang dia keluarkan untukku. Seperti memijat pundaknya atau bernyanyi untuknya. Dia benar-benar telah menghilangkan kesabaranku. Tidak dapat dimaafkan!.

Para senior mengikatkan sebuah gelang putih di tangan kami, kemudian berjabatan tangan sebagai bentuk permintaan maaf. Sampai aku tiba pada mommen dimana aku harus berhadapan dengan pria itu. Wajahku kusut dan terlipat. seakan enggan berlama-lama, aku segera menarik tanganku menjauh darinya, namun dia menahan tanganku.

“seminggu yang menyenangkan, kapan-kapan lagi ya?”
Seringainya kembali muncul membuatku geli. Aku hanya merespon dengan senyuman cepat tidak ikhlas. Lalu segera beralih ke senior selanjutnya.

Lega sekali. Akhirnya semuanya berakhir. Begitulah pemikiranku.
****************


Hwang Nana : Oppa.. Love you ^^

Donglee Hae Part II : Love you too.. J

Hwang Nana : Happy 5th monthsarry oppa :3 akhirnya impian nana buat monthsary ke 5 tercapai juga >.< makasih udah sabar ngadepin nana, meski nana kayak gini xD

Donglee Hae Part II : Happy 5th monthsarry sayang ^^ haha. Jangan ngomong gitu.

Hwang Nana : maaf nih nana hari ini agak sibuk karena atur jadwal xD maklum mahasiswa baru :3 jadi gak bisa kasih kejutan monthsarry apa2 L tapi beneran nana makasih nih sama oppa xD nana senyum-senyum sendiri sekarang masa /.\

Donglee Hae Part II : nana udah kasih banyak hal buat oppa kok. Nana jangan terlalu capek, jaga kesehatan ya ^^oppa sayang nana.

Senyumanku merekah membaca kata demi kata darinya. Hatiku berbunga-bunga terasa seperti darahku berdesir ke seluruh bagian tubuhku. Aku sekarang sadar. Bahwa aku jatuh cinta. Aku jatuh cinta pada pria di dunia maya. Yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Pengalaman berhubungan di dunia palsu, tidak selalu lancar. Sudah terbilang sering kami bertengkar dan putus nyambung, namun entah mengapa dengan banyaknya kejadian itu, aku semakin menyayanginya. Apakah ini yang dinamakan cinta buta? Apakah mungkin seseorang bisa jatuh cinta tanpa kontak fisik maupun saling melihat? Jawabannya adalah bisa!. Aku sekarang tengah mengalami hal ini. Aku jatuh cinta pada kepribadiannya, aku jatuh cinta pada sifatnya, aku jatuh cinta pada cara dia memperlakukan aku. Bahkan sekarang aku jadi Fishy, pemancing? Bukan. Fishy adalah sebutan untuk fans Dongae Super Junior. Meski tidak terlalu fanatik, namun aku jadi menyukai Donghae di grup band Korea Super Junior.
****************


Satu hari yang cerah, ketika aku tengah duduk sendiri di halaman belakang kampus, menunggu mata kuliah selanjutnya. Sambil bermain peran (roleplay) di ponsel, tiba-tiba aku merasakan kehadiran seseorang. Namun karena aku asik ber-drama* disebuah grup drama di dunia rp, aku tidak begitu menghiraukannya.

“Pantas saja tidak punya teman. Kerjaannya main hape terus”

Suara itu. Begitu mengusikku sehingga mau tak mau, mataku beralih menatap si empunya suara berat yang khas itu. Aku mengernyit melihatnya duduk di sisi pohon disampingku. Menghadap arah yang berbeda denganku.

“mau ngapain bang?”
“jangan bang, Juan aja, atau a’a’ Juan?”
Aku kembali mengernyit mendengar perkataannya. Lalu menggelengkan kepalaku. Mataku kembali terfokus ke ponsel. Melanjutkan kegiatanku tadi.
“ahh gak seru. Kamu anak baru kan? Udah keliling kampus ini?”
“euhm.” Aku mengangguk pelan tanpa mengalihkan pandanganku.
“aku punya tempat yang mungkin belum kamu liat dikampus ini”
“uhmmm” aku bergumam tanpa mendengar dengan jelas perkataannya.
“sshh!”
“eh!” aku terkejut. Ponselku tiba-tiba saja hilang dari pandanganku. Dan ternyata telah direbut oleh orang di sampingku yang sekarang berjarak tak lebih dari sejengkal di sisiku.
“bang balikin! Juan!”
“nyuekin sih,, kapok hapenya aku sita” aku cemberut melihat ekspresi jahil yang dikeluarkannya.
“balikin gak! Kalau gak--!” aku menyipitkan mataku berusaha mengancam.
“kalau gak?” seakan menantang ancamanku dia balik bertanya
“kalau gak—aku—“ aku apa ya?
“apa?”
“aku gak ngapa-ngapain, ayok balikin!” aku menadah. Namun tidak disangka, bukannya handphoneku dikembalikan, dia malah menarik tanganku berdiri lalu berjalan menjauh dari pohon.
“mau kemana sih?”
“ikut aja. Aku ajak jalan-jalan”
“kurang kerjaan ah. Emang lagi gak ada kuliah?”
“gak ada.”
“terus kenapa kekampus?”
“pengen aja”
“pengen apa?”
“udah diem aja sst!”

Aku menghela napas panjang dan pasrah saja ditarik pria ini entah kemana. Awas saja kalau mengajakku ke tempat sepi. Atau berbuat macam-macam. Aku sudah menyimpan jurus bela diri sejak lama yang bisa digunakan untuk melindungi diri dari keadaan terancam. Setelah berjalan beberapa lama bahkan naik tangga. Akhirnya kami sampai di suatu tempat. sebuah gedung belum jadi yang kosong dindingnya belum berdiri, hanya lantai yang luas dengan tiang-tiang beton. Dan benar tempatnya sunyi sekali.

“sepi amat. Ini dimana?”
“tempat favorit aku dikampus”
“favorit? Cuma lantai kosong gini, gak takut?” pandanganku menyapu sekitar. Lalu kulihat Juan berjalan ke pojok gedung. Aku pun menyusul berdiri disampingnya
“woaahh....” mataku terbelalak, indah sekali. Dari sini aku bisa melihat seluruh wilayah kampus bahkan beberapa fakultas lain pun terlihat dari sini. Manusia berlalu lalang, juga kumpulan orang yang sepertinya memiliki kisah mereka masing-masing. Aku tersenyum menatap pemandangan dari atas sini. Tanpa sadar ada yang terus memandangiku sejak tadi.

“keren kan? Aku kesini kalo lagi bosen rame, atau lagi males ngapa-ngapain tapi bosen dirumah. Kalo gak disini ya dirumah temen” curhatnya. Aku mendengar ucapannya namun mataku masih terfokus memandangi hadapanku. 

Saat kualihkan penglihatanku, aku sudah melihat Juan mengambil posisi di sudut ruangan yang lain, duduk disebuah bantaran beton besar, disertai sebuah gitar.
“hmm.. bisa main gitar?” tanyaku sambil menghampirinya
“bisa dong. Dulu pernah ngeband”
“wahhh masa sih? Jadi apa? Jangan-jangan jadi tukang gulung kabel”
“enak aja. Yang jelas hampir semua jenis alat musik aku bisa”

Yaah keren juga seniorku satu ini. Beberapa menit kami lalui sambil bercanda dan bernyanyi bersama. Aku mulai melupakan dendamku padanya. Dan mulai merasakan nyaman. Sampai saatnya aku harus kekelas untuk menghadiri kuliah. Setelah itu pun aku jadi sering ke tempat itu, ada atau tidak ada Juan disana. Lebih adem dan lebih nyaman ketibang dibawah pohon.

*Drama : kegiatan dalam dunia roleplay yang mengharuskan rolelplayers mengeluarkan karakternya dalam sebuah cerita. Disertai bentuk gerakan yang dilambangkan dengan tanda bintang (*berjalan*) atau slash (/memeluk). Biasanya duel dengan roleplayers lain dengan alur yang tidak tertebak.
****************


“bagaimana iniiiii~ apa ini yang dinamakan selingkuh?” saat ini aku sedikit frustasi dengan yang aku rasakan, sepertinya sekarang aku telah menduakan Couple rp ku. Akhir-akhir ini aku jadi semakin senang berdekatan dengan seniorku dikampus. Sampai aku menyadari, bahwa aku mulai menyukai seniorku itu, Juan.
“huueee... oppa maafin nana oppa” kutatap poster Donghae dikamarku. Sambil mengelus pipinya penuh penyesalan.
“aku jadi kangen oppa, online ahh semoga dia juga on deh.” Kukeluarkan laptop dan mulai menjelajah dunia maya.

Hwang Nana : met malem oppaaaa~~ aaa senengnya kita bisa on bareng xD

Donglee Hae Part II : malem nana ^^ iya nih kangen banget. Haha

Hwang Nana :sama nana juga kangen banget >.<  Oppa, nana mau jujur, L kayaknya nana suka sama senior nana T^T

Donglee Hae Part II: ciee... yang bener? Siapa?

Hwang Nana: oppa gak marah kan? :’’ senior nana.. padahal dia orangnya ngeselin dan bikin nana marah2 terus. Tapi kayaknya nana....... :’

Donglee Hae Part II : oppa gak marah. Gimanapun nana harus ngejar real nana J kalo nana butuh oppa.. oppa akan selalu nunggu disini.

Hwang Nana : Hueee :’’ makasih oppa >.< tapi nana sayang oppa :’’’ nana bingung :’’

Donglee Hae Part II : nana harus ngutamain real nana ^^ makasih udah sayang sama oppa.

Hwang Nana : sedih jadinya :’’ oh ya oppaa~~ masih belum mau kasih tau oppa asal mana hm?

Donglee Hae Part II : mau tau banget ya? :3

Hwang Nana : iyalaaahh >.< kemarin nana berhasil nebak tanggal lahir sama bulan lahir oppa xD senengnya xD

Donglee Hae Part II: apaan? Orang yang kasih tau... :p

Hwang Nana : oppa kan Cuma kasih clue aja,, nana yang nebak :p oppa asal mana? >.<

Donglee Hae Part II : oppa Jakarta Selatan. Mau ketemuan?

“whaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!” aku reflek berteriak membaca pesan terakhirnya.
“apa sih kak? Ribut banget” tak kuhiraukan perkataan adikku yang sedang mengerjakan PR
“BOHONG KAAANN?” dadaku bergemuruh kencang. Nafasku mendadak tercekat. Ku telan dengan susah payah liurku. Dibilang bohong? Aku benar-benar terkejut!!.
“ribuut!” Kiky segera beranjak dari sampingku dan pindah kekamarnya. Tapi masih tidak kuhiraukan. Ini lebih penting. Dia satu wilayah denganku???

Donglee Hae Part II: Nana??

Hwang Nana : eh? Uh,,, iya opp,,, abis shock ceritanya, haha

Donglee Hae Part II : masa iya? Jadi gimana??

Hwang Nana : MAU!! Mau banget... tapi tapi,,, oppa bukan om om mesum yang perutnya buncit kan? Atau anak SMP yang ingusan, yang pake seragam sekolah tiap saat, atau atau,, kakek-kakek hidung belang >.<

Donglee Hae Part II : =.= semua aja yang jelek2 disebut

Hwang Nana : ehehe,, miann xD abisnya kan oppa kalo dimintain foto gk pernah mau xD

Donglee Hae Part II : bukannya gak mau, Cuma malu aja, oppa jelek :3

Hwang Nana : >.< nana deg2an xD

Donglee Hae Part II : besok jam 2, di cafe ****

Hwang Nana : waaaahh seriusan ini? xD cafenya deket kampus nana opp o.o okedeh besok nana mau telat biar oppa nunggu :3

Donglee Hae Part II : oke deh, dandan yang cantik ya. Skg tidur sana.

“OUUUUUUU EMMMMMM JIIIIIIIIIII..... mimpi apa aku semalam?” aku berguling-guling dikasur. Bantal dan guling menjadi sasaran kegembiraanku yang berlebihan. Seprai kasurku tak lagi pada tempatnya, pembungkus bantal dan gulingku sudah terbang entah kemana. Malam ini benar-benar penuh kejutan. Aku tidak sabar menunggu besok. Ahh sepertinya aku akan susah tidur karena senyuman ini tidak ingin hilang sedetikpun. Bagaimana ini??? Aku terus terbayang kata-katanya.

“Mau ketemuan?”

“Mau Ketemuan?”

“Mau Ketemuan?”

Dengan ke alay-an itu akhirnya aku tertidur pulas, dengan senyuman yang masih merekah. Mimpiku malam ini akan sangat indah.
****************


Entah sudah keberapa puluh kali, kupatut wajahku didepan cermin kaca cafe ini. Kulihat jam. Kenapa waktu lama sekali berjalan? Aku merasa sudah lama semenjak aku duduk disini, tapi kenapa masih jam 10?

“mas! Orange jusnya 1 lagi”

Ini sudah orange jusku yang ke 3. 4 kali lagi maka aku akan masuk On The Spot.

Tik tok tik tok tik tok...

Kenapa tiba-tiba ada kelinci yang masuk ke dalam cafe? Membuatku terkejut ketika tiba-tiba segerombol kelinci masuk dan memenuhi lantai cafe. Mereka sangat lucu, namun memiliki mata yang merah menyeramkan. A-apa ini sebuah penyerbuan alien? Apa aku berada ditempat yang salah pada waktu yang salah?

Bagaimana ini? Aku tidak bisa bertemu dengan Donghae oppa? Tidak! Aku harus bisa bertemu dengannya. Mau apa kau kelinci? Kau tidak akan bisa mengusikku dari sini. Kulemparkan kelinci-kelinci itu menjauh dariku, namun mereka semakin banyak dan mendekatiku. Jantungku berdetak kencang. Ada kelinci yang berhasil mencengkram pundakku!!! Tolonng!!

“euhmm.... nym nym” dalam hitungan detik, semua suasana ricuh dan kisruh tadi berubah, aku seketika berada di dunia lain. Mata ku berkedip perlahan mengumpulkan nyawa dan kesadaranku. Kemudian dengan cepat mataku terbelalak.

“sial! Ketiduran!” gumamku sambil mengusap sudut bibirku takut2 ada cairan yang keluar dari sana.
“bagaimana bisa kamu tidur ditempat umum begini? Hm?” kutolehkan kepalaku ke asal suara, lalu mengernyitkan alis melihat pria yang memakai kemeja kotak berwarna cokelat dan celana jeans.
“Juan? Ngapain disini?” aku terheran karena melihatnya berdiri disampingku lalu berjalan dan duduk dihadapanku.
“mau ketemu seseorang” kulihat ia menatapku lekat sambil tersenyum simpul
“ilernya masih ada tuh”
“sshpp..” segera kuusap sudut bibirku yang lain yang belum kubersihkan “um,, mana gak ada apa2”
“hahaha...” aku cemberut melihatnya tertawa
“dihhh malah ketawa. Eh ya.. betewe, jangan duduk disitu. Aku lagi nunggu seseorang. Dan itu tempat duduk dia”
“disini? Masa sih? Kayaknya ini tempat duduk aku deh”
“hah? Bukan bukan, temen aku, dia belum dateng.” Kulihat Juan menggelengkan kepalanya. Kemudian menjulurkan tangannya.
“Hai Nana.. Kenalkan Donglee Hae” senyumannya yang begitu tulus dan terlihat berbeda. Aku seakan melihat Juan yang lainnya. Dan responku? Aku hanya ternganga tanpa tau harus berbuat apa. Double shock! aku benar-benar kaget bahkan lebih kaget dari semalam sekarang.
“kok diem?”
“ih-iyah” salah tingkah, segera kujabat tangannya yang menjulur dengan kedua tanganku. Lalu menelan liurku dengan susah payah. Aku masih terpaku dan tidak percaya dengan apa yang aku alami. Aku menyukai orang yang sama. Benar-benar melegakan, sekaligus susah diterima logika.
“syuh-syukurlah” gumamku tanpa sadar sambil menghela napas ringan. Aku menarik kembali tanganku lalu tersenyum penuh lega. Karena ternyata aku tidak selingkuh. Aku menyukai orang yang sama. Donglee atau Juan.
“kenapa?”
“hah? Ngh.. syukurlah... bukan om om mesum berperut buncit. Hehehe”
“isshhh... dasar.”
“tapi aku bener-bener kaget. Kok bisa itu lho.”
“ya.. aku juga gak nyangka. aku udah sadar kalau kamu nana semenjak pertama kita ketemu sore itu. Sampai rumah aku langsung meriksa lagi foto yang kamu kirim, dan percaya gak percaya, ternyata  aku ngeliat kamu secara langsung. lalu buat menguji mental kamu. Aku ngetes-ngetes sedikit” kulihat dia menahan senyumannya.

“wait! Berarti selama ini kamu sengaja ngerjain aku? Berarti selama ini aku curhat tentang kamu keee kamu, gitu?”
“kalo dibilangin ngerjain eum, gak kayaknya..cuma iseng aja. curhat? eum.. bisa dibilang begitu....” ia sengaja mengeluarkan ekspresi berpikir yang menyebalkan, sedang wajahku memerah karena malu

“jahatnyaaa~ kan maluuu” kututup wajahku yang memanas dengan tangan
“santai aja.. lumayan ngehibur aku yang lagi bosen, eh ini punya kamu semua? 6 gelas?”
“ya Tuhan.. mau di kantongin dimana nih muka?” gumamku
“Huum punya aku semua hehe”
“dari jam berapa disini? katanya mau datang terlambat, jadi aku juga nyantai. Kamu tuh sesuatu banget ya Ika eum Nana?”

Mengingatkanku pada kegiatanku setiap hari dengan Username Donglee Hae Part II, yang sekarang aku tau bahwa dia senior yang aku suka. Ada perasaan bahagia yang menyeruak dalam dadaku. Kehidupan datar dan monotone yang dahulu aku kira akan kujalani selamanya, ternyata dengan sekejap berubah menjadi berwarna dan penuh macam rasa. Siang itu kami habiskan dengan berbincang sambil menceritakan kisah bermain rp yang kami lakukan sebelumnya. Berawal dari roleplay, berakhir dengan kisah nyata yang manis. Aku berharap akan selamanya bisa bersamanya.
****************


“semangat kerjanya ya hari ini sayangku” ujarku sambil memperbaiki dasi pria dihadapanku ini.
“pasti sayang.. kayaknya hari ini ayah banyak client..jadi ayah pulang agak malem” ekspresi wajahnya menyiratkan sedikit tidak rela bila pulang lebih larut. Sekilas aku cemberut manja namun kemudian tersenyum tulus.

“bunda bakal doain ayah dari sini. Sayang harus fokus kerjanya. Demi menafkahi bunda,, abang sama dedek.” Aku senang, wajahnya yang tadi kendur sudah kembali menguat. Tersenyum manis.
“ayah sayang bunda” sebuah kecupan kecil mendarat di bibir dan keningku. Memang sudah menjadi kebiasaan, setiap sebelum berangkat bekerja. Ia akan memberikan kecupan padaku.

“aaayaaah~~ apang au langkat kolah.. aok ta langkat. Ntal apang telat”
“eehh jagoan ayah...” Juan menggendong Daniel, anak tertua kami yang saat ini duduk dibangku TK. Pemandangan yang indah saat memulai hari.
“ayok deh kita berangkat.. ayah juga bisa-bisa telat nih. Salim dulu sama bunda”
“ndaaa~” anakku meraih tanganku lalu mengcup punggung tanganku.
“pinternya anak bunda. Semangat belajar sayang, nanti bunda jemput abang bareng dedek Khansa”
“oke ndaa...” ujarnya sembari mengacungkan jempol tangannya.
“sayang.. berangkat dulu ya..” Juan mengecup keningku sekali lagi sebagai perpisahan, karena seharian tak akan bertemu. Lalu beranjak ke mobil untuk berangkat ke medan perang.

Aku tersenyum sambil melambai mengantar kepergian mereka. Betapa melegakannya kehidupanku saat ini. Jalan hidup memang tidak akan ada yang tau akan mengalir kemana. Sudah hampir 5 tahun menikah, namun aku masih tidak menyangka bagaimana kisah cintaku berjalan sampai seperti ini. Berawal dari dunia maya. Sampai pada pertemuan pertama. Lalu pria yang menjadi suamiku itu memintaku menjadi pacarnya. Kemudian melamarku. Semua terasa seperti mimpi. Dia adalah cinta pertamaku, lelaki pertamaku, ciuman pertamaku, dan suamiku. Semenjak bertemu dengannya, aku merasa memiliki kisah cintaku sendiri, dramaku sendiri, filmku sendiri.

“ngeaakk... ngeaakkk...”

“Khansa”

Lamunanku terhenti saat aku mendengar isak tangis anak keduaku yang begitu nyaring. Sepertinya dia sudah bangun dan haus. Segera saja ku berlari kecil menghampirinya. Kisahku masih panjang. Dan aku percaya, akan banyak hal baru yang akan aku alami. Karena hidup akan terus mengalir sampai nyawa tak lagi di raga.




2 komentar:

  1. Mantep.. so sweet, keren lah yg nulis :D lanjutkan..!!!! hahah. udah yakin ika punya bakat nulis ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahahahha xD jadi maluuuu X3 makasih pujiannya tuan permana :*

      Hapus